Tuesday, June 29, 2010

Ya Allah, Izinkanku menjadi sepertinya...


Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang,” Nasibah berkata, “aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”

Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.

Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid…”

Nasibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nasibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi.”

Mata amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah.”

Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur.”

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke rumah Nasibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan kiranya?” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “apakah anakku gugur?”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

“Inna lillah….” Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.

“Kau berduka, ya Ummu Amar?”

Nasibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak.”

Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani.”

Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya. “Kau tidak takut, nak?”

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau perempuan, ya Ibu….”

Nasibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?”

Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas’ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Istri Said-kah engkau?”

Nasibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?”

“Beliau tidak kurang suatu apapun…”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”

“Engkau masih luka parah, Nasibah….”

“Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa.”

Oleh: Mochamad Bugi - Dakwatuna

Saturday, June 26, 2010

Masa..muhasabahlah!!

Masa tak pernah menunggu kita, bahkan kita yang selalu meninggalkannya...
sering kali kita lupa tentangnya, sehinggakan kita tak rasa kehilangannya..
apatah lagi nak merasai betapa pentingnya masa ni!!!

masa..masa..

Andai kata kita tahu kepentingannya, pastinya kita takkan biarkan diri kita hari ini sama seperti kelmarin, atau diri kita esok sama dengan hari ini..BETUL TAK sahabat2???

Sabda Rasulullah s.a.w. antara maksudnya, seorang muslim yang baik adalah apabila hari ini lebih baik daripada semalam.

adakah kita seperti apa yang disabdakan oleh baginda???

ingatlah bahawa, Allah takkan mengubah sesuatu kaum itu sehingga mereka mengubah diri mereka sendiri..

Jadi, jom kita pejamkan mata kita sebentar dan cuba muhasabah dan ingat balik sudah berapa banyak HIDAYAH dan PETUNJUK Allah hadir dan menyapa diri kita, namun apa tindakan kita???

Berdoalah pada Allah supaya kita sentiasa dapat memperbaiki diri ke arah lebih baik melalui HIDAYAH-NYA, jangan sampai Allah menarik balik petunjuk-NYA ke atas kita disebabkan keegoan dan kesombongan kita tanpa kita sedari...

Wallahua'lam.

Saturday, June 19, 2010

Buat seseorang yg istimewa di hatiku..

Ummi, jika aku menjadi orang yang membebankan selama ini..
Maafkan Aku, Ummi.

Jika aku belum bisa berbakti penuh kepadamu.
Maafkan Aku, Ummi.

Sungguh aku malu. Aku telah berbuat banyak kesalahan kepadamu. Padahal aku sudah mengerti kalau Tiket ke Surga ada padamu.
Maafkan Aku, Ummi.

Dan kesalahan terbesarku adalah menanyakan kepadamu sebuah pertanyaan yang bodoh"Ummi, apakah kau mendoakan setiap langkahku?"

Padahal aku tahu ketika aku sakit, engkau lebih sakit.
Padahal aku tahu ketika aku gagal, engkau lebih sedih dan terus memberi ku semangat.
Dan aku tahu bahwa hanya untuk kebaikan anakmulah segala perbuatanmu.

Aku malu, Ummi. Aku malu kepadamu karena tidak bisa membalas jasamu.
Maafkan aku. Ummi.

Ummi, saat kau terduduk dalam lelah yang sangat, aku khawatir, aku rasakan salah bergumpal-gumpal..

Ummi, saat kau menasihatiku, aku mengerti.. Aku faham semua harapanmu..
Ummi, saat melihatmu menangis, Aku hancur..
Saat melihatmu sakit, Aku hancur..

-aku tak kuat-
Karena air matamu, adalah butiran-butiran kristal dari lelahnya sebuah perjuangan, disitu tercetak dosaku..
Karena sakitmu, adalah tumpukan beban-beban yang kau bawa, disitu pula tercetak dosaku..
Melihat itu semua aku boleh buat apa?

-aku tak kuat-
aku rasakan bersalah amat sangat
Rasanya percuma aku pergi mengejar cita-cita, Kalau ibu lelah dan sakit tapi aku diam saja

-aku rasa bersalah amat sangat-
Satu hal yang menenangkanku akan dirimu Ummi..
Pada saat kau duduk kelelahan...memandang anakmu ini dengan kebahagiaan..
Ku rasa malaikat di langit melimpahkan shalawatnya kepadamu dan Tuhan berikan senyuman rahmat-Nya khusus untukmu..
Semoga Allah selalu merahmatimu, Ummi. Dan menyayangimu sebagaimana engkau menyayangi aku sejak aku masih kecil.

-khas buat ummi...adik sayang ummi..

tazkirah pendek...

ALLAH melapangkan keadaanmu agar engkau tidak tetap dalam keadaan sempit dan ALLAH menyempitkan keadaanmu agar engkau tidak terus dalam kelapangan. DIA melepaskanmu dari keduanya agar engkau terbebas dari segala sesuatu selainNYA

Hidup itu indah jika Allah selalu dihati, karena Allah membaguskan yang buruk, menyembuhkan yang sakit, melapangkan yang sempit, mengkayakan yang miskin, meringankan yang berat hingga hidup menjadi lebih indah seindah ciptaanNYA.

Dosa yang paling berbahaya adalah dosa yang dianggap remeh pelakunya. (Ali bin Abi Thalib).Yang paling ringan adalah meninggalkan sholat, sedemikian ringannya hingga banyak manusia yang tdk merasa berdosa meninggalkannya. (Imam Al-Ghazali).

Zuhud tdk berarti hrs menjadi seorang miskin. Hakikat zuhud terletak pd hati. Seorang yg zuhud memiliki ciri2: tdk merasa bangga terhadap sesuatu yg ada padanya n tdk pula tdk merasa sedih dikala kehilangan nikmat itu. Tdk bangga dgn pujian n tdk pula merasa marah jika dicerca. Selalu mengutamakan cintanya kpd ALLAH n mengurangi cintanya kepada dunia.

Ada tiga perkara yang membinasakan (manusia) yaitu hawa nafsu yang dituruti, kekikiran yang dipatuhi dan seorang yang membanggakan diri sendiri. (H.R. Ath Thabrani dan Anas)

-drp renungan dan kisah inspiratif

Wednesday, June 16, 2010

TERIMA KASIH YA ALLAH...


Terima kasih atas hidup yang luar biasa ini.Terima kasih atas
detak jantung ini.Terima kasih atas mata yang dapat melihat.Terima kasih atas telinga yang dapat mendengar.Terima kasih atas hati yang dapat merasaTerima kasih atas tangan yang dapat mengenggam.Terima kasih atas kaki yang dapat berjalan.Terima kasih atas mulut yang dapat berbicara.Terima kasih atas orang tua yang bijak.Terima kasih atas sahabat yang setia menemani.Terima kasih atas adik-adik yang penuh semangat.Terima kasih atas orang-orang yang mencintai.

Terima kasih atas saudara seperjuangan yang tak pernah letih.Terima kasih atas makanan yang meredakan lapar.Terima kasih atas selimut yang menghangatkan Terima kasih atas atap yang melindungi.Terima kasih atas pakaia
n yang menutupi.Terima kasih atas udara yang kuhirup.Terima kasih atas tanah yang kupijak.Terima kasih atas burung-burung yang berterbangan.Terima kasih atas bintang-bintang yang indahTerima kasih atas matahari yang menyinari.Terima kasih atas rasa cinta.Terima kasih atas rasa sayang.Terima kasih atas rasa kasih.

Terima kasih atas pengorbanan.Terima kasih atas perjuangan.Terima kasih atas air mata.Terima kasih atas kesempatan untuk mengenal-Mu.Terima kasih atas kesempatan untuk beribadah kepada-Mu.Terima kasih atas kesempatan untuk berharap kepada-Mu.


Terima kasih atas kesempatan untuk bergantung kepada-Mu.Terima kasih atas kesempatan untuk beramal shaleh.Terima kasih atas segala yang tak pernah terucap.Karena tak sanggup mulut ini mengucapkan syukurku yang tak terhingga.Karena tak cukup pena ini menuliskan segala nikmat-MuKarena tak cukup dunia ini melukiskan segala milik-Mu.Karena Engkau begitu indahkarena Engkau begitu sempurna.Karena Engkau begitu mulia.Karena Engkau begitu luar biasa....Ampuni hamba ya RABB...


Tak pantas hamba menghitung sega
la nikmat-Mu.

Hamba hanya dapat meneteskan air mata...Tertunduk tak berdaya di hadapan-Mu...

-renungan dan kisah inspiratif

Thursday, June 3, 2010

KEMATIAN..


Kematian itu sendiri tidak menakutkan, sebagaimana yang kelihatan kepada kita pada zahirnya. Dalam banyak risalah dan juga melalui qur’an, diterangkan dengan bukti yang jelas tanpa meninggalkan sebarang keraguan dan kekeliruan.

Kematian bagi seorang mukmin bererti berakhirnya bebanan daripada tugas kehidupan dan kesulitan. Ia juga adalah pembebasan daripada ubudiyyah yang merupakan proses pembelajaran dan latihan di medan dunia yang dipenuhi dengan bala bencana…
Kematian juga adalah pintu bagi menemui sembilan puluh sembilan kekasih dan teman rapat yang pergi terlebih dahulu ke alam akhirat…

Kematian juga adalah cara bagi memasuki halaman tanah air yang hakiki serta tempat tinggal abadi dalam memperoleh kebahagiaan yang kekal…

Kematian juga adalah seruan kepada kita supaya berpindah daripada penjara dunia kepada taman-taman dan kebun-kebun syurga…

Kematian juga adalah peluang yang baik bagi menerima balasan daripada perkhidmatan yang dilaksanakan, balasan yang dikurniakan dengan penuh kemurahan daripada khazanah kelebihan dan kebaikan Tuhan yang Maha Mencipta lagi Maha Mengasihani…


Oleh yang demikian, keadaan kematian daripada sudut hakikat tidak sepatutnya dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan. Malah wajib kita menganggapnya sebagai berita gembira bagi memperoleh rahmat dan kebahagiaan.

Ketakutan sesetengah wali-wali Tuhan bukannya pada kematian yang dahsyat itu, tetapi ia adalah kerana mereka masih mahu memperoleh dan membuat lebih banyak kebaikan dan kebajikan. Di samping itu, dengan melanjutkan tempoh masa, mereka boleh meneruskan tugas kehidupan.

Sememangnya kematian bagi ahli keimanan adalah pintu rahmat tetapi bagi ahli kesesatan, ia adalah perigi gelap yang abadi.

-dipetik drp 25 rawatan untuk pesakit

Monday, May 31, 2010

DOA MELEPASKAN KERESAHAN

Dengan nama ALLAH yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Wahai Penghilang bagi segala kerisauan
Wahai Peenghilang segala penderitaan
Wahai Tuhan yang Maha Pengasih di dunia dan akhirat serta penyayang di kedua-duanya(dunia & akhirat)
Selawat ke atas Muhammad s.a.w. dan ahli keluarga baginda
Hilangkanlah keriauanku
Lepaskanlah penderitaanku

Wahai yang Maha Esa
Wahai yang Satu
Wahai Tempat Bergantung
Wahai yang tiada beranak dan tidak diperanakkan
Wahai yang tidak menyerupai dengan segala sesuatu.
Peliharalah daku
Sucikanlah daku
Hilangkanlah keresahanku...
(selepas itu baca ayat kursi, surah al-Falaq, surah an-Nas)